30 April 2010. 06:30 pagi. Lupa kalo hari ini Ibu ulang tahun. Langsung berangkat ke Indralaya, mau praktikum Ortho.
13:00 siang. Pulang dijemput Dhanu. Masih lupa sama ulang tahun Ibu. Capek abis praktikum, langsung makan.
13:30 siang. Abis makan mau shalat, tiba-tiba Dhanu bilang ke Ibu, "Ibu, kakak pergi ya mau ditraktir Ata yang ultahnya bareng sama Ibu". Baru nyadar, langsung nyusun rencana sama Dhanu.
14:00 siang. Dhanu pergi jalan sekalian membawa tugas membeli kue dan lilin. Berencana pulang sekitar habis maghrib. Aku memutuskan untuk tidur siang. Ngantuk berat.
18:00 maghrib. Lagi ngenet. Belum mandi. Dhanu sms kalo dia lupa beli kue. Mulai manggil Agil minta anterin beli kue. Ternyata Agil juga belum balik maen. Pasrah. Mulai mandi dan shalat Maghrib.
19:00 hampir Isya'. Dhanu pulang, mulai keliling nyari kue. Setelah keliling akhirnya dapet kue di Mom Mee, kecil, mahal, dan ternyata di Mom Mee gak ada lilin. Melanjutkan perjalanan nyari lilin.
20:00 lewat Isya'. Akhirnya dapet lilin di Indomaret setelah masuk ke 3 minimarket sebelumnya. Pulang ke rumah, nyembunyiin kue di lemari kamar Dhanu, nelfon Ayah (ternyata masih di Kertapati), nyari Agil (ternyata masih maen futsal). Pasrah menunggu bersama Dhanu sambil ngenet.
21:00 malem. Ayah pulang. Agil pulang. Mulai nyiapin kue dan lilin di kamar Dhanu, eh tiba-tiba Ibu ngetok kamar. Untung Agil sigap dan mulai bersandiwara.
21:15 malem. Udah siap-siap mau nyanyiin lagu sambil bawa kue, eh pas masuk ke kamar Ibu, Ibunya lagi shalat. -____-". Memutuskan buat ngelanjutin nyanyi dan menyebabkan Ibu batal shalat. Maaf ya Ya Allah..
21:20 malem. MISI SUKSES! ALHAMDULILLAH! Semua senang, semua menang! Mulai makan kue dan kuenya ennnnaaaaaakkkk... Maaf ya kue, aku meragukan keenakanmu tadi.. Pantes deh lu mahal!
"Selamat Ulang Tahun, Ibu.Semoga sehat selalu dan diberikan yang terbaik sama Allah.Terimakasih sudah lahir."
She wakes up early in the morning with a smile And she holds my head up high Don't you ever let anybody put you down Cos you are my little angel
Then she makes something warm for me to drink Cos it's cold out there, she thinks Then she walks me to school, Yes I aint no fool I just think my Mom is amazing
She makes me feel Like I can do anything and when she's with me there's no where else, I'd rather be…
After School, she's waiting by the gate I'm so happy that I just can't wait To get home to tell her how my day went And eat the yummy food, only my Mom makes
Then I wind her up cos I don't wanna bath And we run around the house with a laugh No matter what I say, she gets her way I think my Mom is amazing
In the evening, she tucks me into bed And I wrap my arms around her head Then she tells me a tale of a girl far away Who one day became a princess
I‘m so happy, I don't want her to leave So she lies in bed with me As I close my eyes, how lucky am I To have a Mom that's so amazing
Then I wake up in the morning, she's not there And I realize she never was And I'm still here in this lonely orphanage With so many just like me
And as my dreams begin to fade I try hard to look forward to my day But there's a pain in my heart that's a craving How I wish I had a Mom that's amazing Would be amazing
-- My Current Favourite Song. Been repeating on my iTunes since the last time I saw my Mommy. Yeah, that's just now! :)
Hari itu, kebetulan aku sedang berada di rumah orangtuaku di daerah Perumnas. FYI, selama 6 tahun Sekolah Dasar aku tinggal di rumah Nenek di daerah A. Rivai. Hanya tiap akhir pekan atau hari libur aku pulang ke ’rumah’. Jadi, waktu berkumpul bersama Ayah dan Ibu adalah hal yang sangat jarang untukku waktu itu.
Awalnya tidak ada rencana khusus untuk merayakan hari Ibu, bahkan aku pun tidak tahu kalau hati itu adalah Hari Ibu. Ya, saya, Mully Herdina yang waktu itu duduk di kelas Empat SD tidak tahu bahwa tanggal 22 Desember (atau 23 Desember?) adalah Hari Ibu. Mungkin sampai sekarang pun aku tak tahu.
Dan datanglah Dian, teman sebelah rumah, anak yang manis, penurut, tipikal anak yang oleh Ibu, kau akan selalu dibandingkan dengannya. (Kau tahu, seperti ’Dian rajin, kau tidak rajin’ atau ’Dian penurut dan kau tidak’). Dia memberitahu bahwa hari itu adalah hari Ibu dan mengajakku ke pasar untuk membelikan Ibu hadiah. ’Hmm, kenapa tidak?’ pikirku. Akhirnya, dengan uang sepuluh ribu rupiah, Dian dan aku pergi bersepeda ke pasar Perumnas.
Keadaan pasar waktu itu ramai, tipikal pasar pada hari libur, semakin menambah beban untuk mencari kado yang tepat. Ya, dari awal kami belum memutuskan ingin membeli apa untuk Ibu.
Dengan uang sepuluh ribu, di pikiran naif kami berkelebat gambaran saputangan (dicoret karna Ibu lebih suka menggunakan tisu), lalu cincin (huh, sepuluh ribu?) dan akhirnya pilihan jatuh ke vas bunga. Bisa langsung dengan bunganya, pikir kami saat itu.
Setelah berkeliling, akhirnya vas bunga yang diinginkan pun didapat. Setelah tawa-menawar yang panjang ( ya, anak kelas 4 sd ini sudah bisa menawar! Kami memang anak perempuan Ibu dan Mama! :) ), vas bunga ukuran sedang didapat dengan harga 7 ribu rupiah.
Aku memilih vas bunga yang berwarna dasar biru dengan pola bunga kecil berwarna putih. Akan cocok dengan bunga mawar putih Ibu yang sedang mekar. Dian lebih memilih vas berwarna pink, sesuai dengan warna favorit Mama, katanya.
Makan siang pada hari libur adalah waktu yang paling kutunggu sepanjang minggu, karena 5 anggota keluarga berkumpul mengelilingi satu meja bundar dan makan bersama. Pengalaman yang waktu itu hanya dapat aku rasakan seminggu sekali. Waktu yang biasanya aku harap akan berlangsung lama kerna begitu banyak yang ingin aku ceritakan dengan keluarga, entah kenapa hari itu aku sangat berharap cepat berakhir. Vas bunga biru dengan mawar putihku sudah tak sabar lagi bertemu Ibu.
Dengan malu aku mengulurkan vas dan berkata, ’Selamat Hari Ibu!’. Reaksi Ibu waktu itu awalnya diam (mungkin kaget karna anak perempuannya yang pemalas ini tahu apa dan kapan Hari Ibu itu), lalu tersenyum dan berkata, ’Terimakasih Nak.’ Lalu memelukku dan mencium kepalaku. Sedangkan Ayah, langsung menempatkan vas biruku di bufet ruang tamu. Biar ruang tamunya wangi mawar, katanya.
Itu sembilan tahun delapan belas hari yang lalu. Sudah lama. Kalau hari ini novel ’5cm’-ku tidak hilang, dan aku tidak mencarinya di bufet kamar Ibu, mungkin aku tidak akan pernah ingat lagi dengan vas biruku.
Warnanya masih biru tapi tidak secerah dulu, pola bunga kecil putih-nya pun masih ada, hanya sekarang sudah sedikit menguning di beberapa tempat. Sekarang sudah tidak ada lagi tangkai mawar putih dan bagian atas dari vasku sudah retak, patah malah. Keadaannya sudah tidak layak lagi untuk disimpan.
Aku masih ingat setiap kata Ibu waktu aku menunjukkan vas biruku yang sudah patah, Ibu bilang:
’Itu kan hadiah dari Wiek, walaupun sudah patah karna kesenggol pembantu, bakal tetep Ibu simpen. Hadiah pertama untuk Ibu di Hari Ibu.’
AKU SAYANG IBU.
:*
PS(es).
- Terimakasih buat Dian, sekarang dimana? Aku kangeeeennnn ingin keteeemmmuu..
- Terimakasih buat Ayah atas uang sepuluh ribunya. Maaf waktu itu bohong pas ditanya buat beli apa. Dan maaf lagi, sisa tiga ribunya aku beliin es krim conello pelangi. :P
- Terimakasih buat Novel 5 cm-ku yang hilang yang dengan hilangnya dapat mempertemukan aku dengan vas biruku.